ENJOY THIS BLOG ! :D

Ketika Hujan Turun di Suatu Sore (Catatan #5)

Sabtu, 21 September 2013

Kau tahu? Bahkan berteduh di suatu tempat ketika hujan turun pun bisa menjadi cerita. Dan aku tak tahan untuk menuliskannya (lebih tepatnya mengetikkan dengan tuts handphone).

Sore itu, dari jendela kosan, langit terlihat mendung. Tampaknya akan turun hujan. Aku berpikir sebaiknya berangkat ke kampus saat itu juga, daripada terjebak hujan dan tidak dapat menghadiri sebuah agenda.
"Gak papalah, ngapain dulu kek di kampus".

Akhirnya aku berangkat. Baru beberapa langkah, tiba-tiba terlihat kilat diikuti guntur. Dan tetesan air mulai berjatuhan. Sedikit, sedikit, lama kelamaan menjadi butiran hujan. Nyaris urung untuk berangkat, tapi sudah kepalang tanggung. Aku berteduh di sebuah toko di depan penjual gorengan.

Si ibu penjual gorengan tengah sibuk mengamankan dagangannya ketika aku datang. Meletakkan plastik di sana sini agar gorengannya tak rusak terkena air. Hujan memang turun cukup deras. Di toko tempatku berteduh, ada seorang mahasiswi lain yang juga berteduh. Dia tersenyum, aku balik tersenyum padanya. Ibu penjual gorengan masih sibuk dengan dagangannya, kini dibantu oleh ibu penjaga toko. Sementara itu, aku juga sibuk, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Tidak di tengah jalan, di trotoar tentunya karena hujan.

Ada dua orang mahasiswi yang berteduh di seberang jalan, seperti mengamatiku dari kejauhan. Ada dua orang mahasiswa, tiga kali mondar mandir di depan toko tempatku berteduh. Ada seorang ibu yang berpayung untuk menjemput anaknya di seberang jalan. Entah karena apa, tetapi senang rasanya mengamati hal-hal kecil seperti itu. Hingga tanpa sadar, ujung rokku terciprat air dan terkena noda di mana-mana. Aku masih menunggu hujan reda. Sesekali terdengar obrolan antara ibu penjual gorengan (yang merasa dagangannya sudah aman) dengan ibu penjaga toko tempatku berteduh. Akrab sekali. 

Sejenak pikiranku menerawang entah ke mana. Lalu tiba-tiba teringat, bahwa berdoa saat hujan sangat dianjurkan. Hujan adalah rahmat, bukan? Aku berdoa, meminta apapun yang kubutuhkan pada Allah.

Hujan sudah hampir reda, ketika mahasiswi yang berteduh di toko yang sama denganku pergi lebih dulu. Tak lupa untuk berterima kasih pada si ibu penjaga toko dan menyunggingkan senyum. Aku belum hendak pergi, karena masih gerimis. Sembari menunggu reda itulah, aku mulai mengetikkan huruf demi huruf cerita ini. Tak tahu pasti akan berujung di mana, hanya ingin membiarkannya mengalir begitu saja seiring aliran hujan pada tanah-tanah basah. Sederhana.

Dan kini, ketika sudah merasa aman untuk berjalan, aku meneruskan langkah ke tujuan semula. Berterima kasih pada ibu penjaga toko, walaupun sempat dicegah karena agak gerimis. "Gak papa, Bu", ujarku.



Bogor, 20 Mei 2011.
Tulisan pertama tentang hujan.

2 komentar:

Rizki Pradana mengatakan...

bogor masih sering hujan yaa??
selalu ada cerita di balik hujan,,tpi di solo masih belum hujan sama sekali..
nanti akalu udah hujan aku ceritain balik deh :))

salam EPICENTRUM

wait for visit :))

Lisa Silvia mengatakan...

masih suka hujan, tapi gak begitu sering. dan sekalinya hujan ya badai.
okesip, ditunggu cerita hujan versi solo ya..

Posting Komentar

dikomen dulu bisa kali :D

-Thanks for visit-