ENJOY THIS BLOG ! :D

Terima Kasih, Pak

Senin, 01 April 2013

Namanya Pak Gun. Tepatnya demikian beliau disapa. Usia beliau, saya tidak tahu pasti. Namun bisa ditaksir sekitar 50 tahun-an. Kadang terkesan dingin, tetapi saya yakin sekali, bapak ini berhati baik. Jadi, siapakah Pak Gun ?

Sedikit informasi, tulisan ini tidak dilatarbelakangi oleh maksud apapun. Saya hanya merasa kagum oleh sosok Pak Gun. Pak Gun adalah seorang staff laboratorium di departemen tempat saya melanjutkan studi. Mahasiswa tingkat akhir yang menjalani tahap penelitian (seperti saya ini, hehe) dapat dikatakan banyak berinteraksi dengan beliau. Apakah itu dalam rangka peminjaman alat atau permintaan (minta? beli!) bahan untuk penelitian, silakan bertanya pada Pak Gun. InsyaAllah dilayani dengan baik, selama mahasiswa juga menyampaikan maksud dengan baik. Akan tetapi ada kalanya tanggapan Pak Gun terasa dingin, yang membuat beberapa mahasiswa akhirnya merasa enggan untuk bertanya kepada beliau. Saya salah satu dari mereka, dulunya. Kalau sekarang? Udah engga kok Pak. Dan saya sangat bahagia ketika berhasil membuat Pak Gun ikut tertawa.

Satu hal yang membuat saya tersentak adalah fakta bahwa ternyata Pak Gun berangkat setelah subuh menuju kampus dari rumah beliau di kawasan Cipanas, sekitar Puncak (demikian informasinya). Ketika mungkin beberapa diantara kita masih nyaman bergelung di bawah selimut dan berat untuk bangkit melaksanakan sholat Subuh. Kemudian mau tidak mau saya mengira-ngira pukul berapa Pak Gun tiba di rumah, plus rasa letih setelah seharian di laboratorium. Dan rutinitas itu kembali diulangi pada hari-hari berikutnya. Lima hari seminggu. Saya tidak tahu pasti, apakah perkiraan ini mendekati benar, tetapi membayangkannya saja sudah cukup memberi kesan berbeda. Saya teringat seseorang di rumah : Ayah.

Well, bukan perjuangan namanya, bila dirasa mudah. Karena perjuangan lah yang membuat sesuatu menjadi bernilai. Seperti intan, semakin besar tekanannya, semakin berkilau, semakin bernilai.

"Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya". -Tere Liye

Barangkali Pak Gun merupakan contoh kecil dari banyak perjuangan yang ada di luar sana. Terima kasih, untuk Pak Gun atas perjuangannya. Juga Bapak-Ibu staff laboratorium yang lain, yang pasti memiliki cerita masing-masing, dengan jalan berbeda. Walaupun mungkin merasa ini rutinitas biasa, tetapi cukup menjadi inspirasi. Apalagi bagi mahasiswa tingkat akhir, yang harus belajar berjuang. Especially, terima kasih untuk Ayah -oke ini lanjut di belakang nanti, private lah. kalo diterusin, ntar jadi diary, ya? haha :)

0 komentar:

Posting Komentar

dikomen dulu bisa kali :D

-Thanks for visit-